Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Opini

Setelah Debat Pilkada Tanjab Barat : Kemana Swing Voters Berlabuh?

284
×

Setelah Debat Pilkada Tanjab Barat : Kemana Swing Voters Berlabuh?

Sebarkan artikel ini

Oleh: Ahmad Harun Yahya, M.Si

(Pengamat/Dosen Komunikasi Politik) Dosen UIN Raden Fatah Palembang

Example 300x600

Di Indonesia, debat politik memang merupakan tradisi baru. Pertama kali debat politik diterapkan pada tanggal 30 Juni 2004 yang merupakan siaran langsung debat kandidat pemilihan presiden pertama dalam sejarah televisi Indonesia.

Kemudian setelah itu debat diselenggarakan pada tingkat Pilkada baik gubernur maupun bupati/walikota di Indonesia.

Pasca Reformasi, formula debat di Indonesia menjadi salah satu alternative untuk menguji kualitas kandidat dalam menangani berbagai persoalan, juga menyampaikan program yang akan dijalankan pada saat pemerintahannya kelak.

W.L. Benoit meneliti dan mengkaji debat kampanye politik kemudian menciptakan suatu teori yaitu “functional theory of political campaign discourse” .

Teori ini menyatakan bahwa warga negara memilih kandidat yang tampaknya lebih disukai berdasarkan kriteria apa pun yang paling menonjol bagi setiap pemilih. Kandidat memiliki tiga cara untuk melakukan argumentasi.

Pertama, mereka mungkin memuji/pernyataan (acclaim), atau memuji diri sendiri. Kedua, kandidat dapat menyerang (attack), karena pemilihan adalah penilaian komparatif, serangan yang berhasil membuat lawan tampak lebih buruk bagi pemilih.

Ketiga, jika diserang, lawan mungkin terlibat dalam pertahanan (defense), menyangkal tuduhan atau serangan argumentasi dari lawan (Benoit, didalamBenoit).

Bagaimana dengan debat paslon Bupati Tanjab Barat barusan? Dan Apakah debat paslon memiiki efek electoral pada pemilih di Tanjab Barat?

Gaya Komunikasi Paslon

Setelah menyaksikan debat paslon bupati Tanjab Barat, penulis melihat bahwa para kandidat masih malu-malu untuk menyatakan argumentasi dengan terbuka sebagaimana teori di atas.

Menurut penulis, Debat barusan lebih mirip dengan tanya jawab dalam panggung “cerdascermat”. Ini semua tidak terlepas dari pengaruh budaya komunikasi di Indonesia yang lebih cenderung menggunakan gaya komunikasi konteks tinggi (highcontextcultur).

Hall dalam bukunya mengatakan dari segi kultur kebudayaan, maka dapat dibagi dalam dua konteks, pertama kebudayaan konteks tinggi (highcontextculture) dan kebudayaan konteks rendah ( lowcontextculture). Gaya komunikasi kebudayaan konteks tinggi ditandai dengan : pesan bersifat implicit, puitis, tidak langsung dan tidak berterus terang. Pesan tersembunyi dalam perilaku nonverbal, misalnya: intonasi suara, gerakan tangan, gerakan tubuh,ekspresi wajah, tatapan mata atau tampilan fisik. Gaya ini umumnya dianut oleh masyarakat di dunia timur. Sedangkan gaya komunikasi kebudayaan konteks rendah ditandai dengan : eksplanatif, rinci, eksplisit (langsung/linear), gaya bicara langsung, lugas dan berterus terang. Gaya ini umumnya dianut oleh masyarakat di dunia barat.

Di Indonesia, apabila dalam momen debat terdapat paslon yang bertanya dengan pertanyaan yang dianggap “menyerang” paslon lain atau pun membantah secara langsung pernyataan paslon lain, maka paslon tersebut justru akan mendapatkan cibiran publik dan dianggap tidak memiliki etika bukan sebalikya.

Kondisi demikian berbanding terbalik dengan pola debat di negara-negara eropa dan barat yang cenderung lepas dan terbuka. Contohnya debat pilpres Amerika antara Joe Bidden dan Donald Trump pada debat pilpres yang lalu.

Faktor kebudayaan inilah yang menyebabkan hampir setiap momen debat pilpres maupun pilkada di Indonesia jarang sekali terjadi debat antar pasangan calon dan saling bantah pendapat, yang terjadi hanya dialog tanya jawab untuk saling memperkuat dan melengkapi argumentasi antar paslon.

Efek Debat Pilkada

Apakah debat paslon Bupati Tanjab Barat yang digelar barusan memiliki efek elektabilitas pada paslon? Sebelum menjawab pertanyaan ini, sebaiknya kita memahami terlebih dahulu tipe-tipe pemilih di Tanjung jabung Barat.

Pertama, yaitu pemilih rasionalis, pemilih di kategori ini mengutamakan rekam jejak dan program yang dijanjikan, sekaligus menganalisis kemungkinan program-program tersebut relevan untuk dikerjakan atau tidak.

Kedua, Pemilih transvisional yaitu pemilih yang menggantungkan harapan, kebutuhan kepentingannya untuk diakomodasi dan dapat dipenuhi.

Serta ketiga, pemilih tradisional. Pemilih ini cenderung menentukan pilihan pada kandidat berdasarkan aspek yang sangat subjektif seperti kesamaan budaya, agama, moral, norma, dan psikografis.

Dan menurut penulis, berdasarkan catatan sejarah pilkada di Tanjab Barat, maka basis masa pemilih tradisional ini cukup banyak di Tanjungjabung Barat.

Debat kandidat Tanjabbar akan memberikan efek pada pemilih rasional dan terdidik dan juga memberikan efek pada pemilih transvisonal. Debat juga akan mempengaruhi pemilih yang masih ragu-ragu untuk menentukan pilihan sehingga memilih.

Untuk pemilih tradisional, debat tidak terlalu memberikan efek apapun, karena tipe pemilih adalah tipe pemilih yang sangatsetia. Mereka cenderung hanya akan menampilkan hal-hal positif kandidat yang didukung.

Sehebat apapun penampilan paslon lain pada debat tadi, tak akan merubah sedikitpun prefensi pemilih tipe ini.

Efek debat paling kuat ada pada swing voters dan undecided voters. Swing voters adalah istilah untuk pemilih yang sudah ada pilihan akan tetapi pilihannya masih memungkinkan berubah.

Sementara Undecided Voters merujuk pada pemilih yang belum memiliki pilihan. Bocoran hasil survey  dari beberapa Lembaga survey di Tanjab Barat, angka swing voters dan undecided voters voters masih cukup tinggi. Maka, dengan peta kekuatan ketiga pasangan calon bupati Tanjab Barat yang cukup berimbang saat ini, paslon yang berhasil merebut swing voters dan undecided voters paling banyaklah yang akan menjadi pemenang pilkada 9 Desember mendatang.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *